Oleh: Khalid Mustafa

Alkisah, di sebuah negeri antah berantah terdapat sebuah daerah yang telah mengikrarkan diri sebagai satu-satunya daerah yang menggunakan hukum syariah. Di daerah tersebut, sedang terjadi proses pengadaan barang/jasa pada salah satu SKPD-nya.
Proses perencanaan pengadaan di SKPD tersebut sudah sesuai dengan ketentuan. Persiapan juga dilaksanakan penuh kepatuhan dengan aturan. Bahkan dalam sebuah pertemuan antara pelaku usaha dan kepala SKPD di daerah tersebut, kembali ditegaskan bahwa “Tender di tempat saya ini berbasis sariah…jadi jangan takut untuk ikut tender disini…” ucapan Kepala SKPD ini begitu mengena di hati para pelaku usaha.
Berbekal informasi tersebut, maka para pelaku usaha dengan semangat 45 ikut serta dalam tender yang dilaksanakan disana. Mulai dari pemasukan penawaran, pengumuman, dan pelaksanaan kontrak.

Hingga pada tahap pembayaran, mereka dipanggil oleh Kepala Dinas di daerah tersebut ke ruangannya.

“Ini pasti acara syukuran nih, karena orangnya religius banget, apalagi ini katanya berbasis sariah…”

Kalimat tersebut bermain-main dalam pikiran pelaku usaha yang dengan suka cita menghadiri undangan tersebut.

“Nah, karena anda sudah hadir disini dan sesuai dengan ucapan saya sebelum tender ini dimulai, bahwa tender di tempat saya ini berbasis sariah, maka ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan…”

Seluruh hadirin menunggu kalimat-kalimat selanjutnya dan membayangkan nasehat-nasehat spiritual, petuah-petuah yang indah akan keluar sebagai ungkapan rasa syukur dari Kepala Dinas tersebut.

“Anda harus paham bahwa sariah itu berbasis kepada Bagi Hasil..” Para pelaku usaha mengangguk-angguk setuju.
“Sehubungan dengan hal tersebut,” lanjut kepala dinas, “tolong sampaikan berapa keuntungan masing-masing penyedia di sini dari hasil tender di tempat saya, dan tolong bagi minimal 4% dari nilai proyek sebagai bagian saya…

Melongolah seluruh pelaku usaha yang hadir mendengar kalimat tersebut.

Namun, salah seorang pelaku usaha yang hadir rupanya paham, bahwa mungkin saja pengertian Pak Kadis tersebut terhadap sariah adalah = SHARE (bagi)… yahhh…

“Rupanya sama saja dengan yang lain” keluh para pelaku usaha sambil geleng-geleng kepala. Mereka pulang dengan membawa pengalaman dan pemahaman baru terhadap istilah baru, yaitu “Share…yah”
Om.. Share yah.. Om..

Bagikan:
0